Peraturan Baru FIBA 2026: Technical Foul, Disruptive Foul & Flagrant Foul
Peraturan Baru FIBA 2026: Technical Foul, Disruptive Foul, dan Flagrant Foul Resmi Diubah
Mulai 1 Oktober 2026, Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) memberlakukan pembaruan Official Basketball Rules 2026 yang membawa perubahan signifikan pada sistem pelanggaran dalam pertandingan basket. Salah satu perubahan paling penting adalah penggantian konsep Unsportsmanlike Foul menjadi dua kategori baru, yaitu Disruptive Foul dan Flagrant Foul, serta pembagian Technical Foul menjadi dua tingkat berdasarkan tingkat keseriusannya.
Perubahan ini bukan sekadar pergantian istilah. FIBA memperkenalkan sistem yang lebih proporsional sehingga hukuman yang diberikan kepada pemain benar-benar mencerminkan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Sebelumnya, pemain dapat didiskualifikasi setelah menerima dua technical foul, dua unsportsmanlike foul, atau kombinasi keduanya. Menurut FIBA, sistem tersebut dinilai terlalu keras untuk beberapa jenis pelanggaran yang sebenarnya tidak memiliki tingkat bahaya tinggi.
Melalui aturan baru ini, wasit memiliki dasar yang lebih jelas untuk membedakan pelanggaran administratif, tindakan yang mengganggu jalannya pertandingan, hingga kontak berbahaya yang melanggar semangat sportivitas.
Bagi pemain, pelatih, referee, table official, maupun penyelenggara turnamen, memahami perubahan ini menjadi sangat penting agar tidak terjadi kesalahan interpretasi saat pertandingan berlangsung.

Mengapa FIBA Mengubah Sistem Pelanggaran?
Dalam dokumen The FIBA Official Basketball Rules Changes 2026, FIBA menjelaskan bahwa tujuan utama perubahan ini adalah menciptakan sistem disiplin yang lebih seimbang (proportionality in sanctions).
Dengan kata lain, tidak semua tindakan yang tidak sportif memiliki tingkat kesalahan yang sama. Ada pelanggaran yang hanya menghambat permainan secara taktis, sementara ada pula tindakan yang benar-benar membahayakan keselamatan lawan.
Oleh karena itu, FIBA memisahkan pelanggaran menjadi beberapa kategori agar hukuman yang dijatuhkan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Perubahan ini juga diharapkan meningkatkan konsistensi keputusan wasit di seluruh dunia.
Article 36 – Technical Foul Kini Dibagi Menjadi Dua Kategori
Perubahan pertama terdapat pada Article 36 – Technical Foul.
Sebelumnya seluruh technical foul diperlakukan dengan konsekuensi yang sama terhadap kemungkinan diskualifikasi pemain. Dalam aturan baru, FIBA membagi technical foul menjadi Category 1 dan Category 2 berdasarkan tingkat keseriusannya.
Technical Foul Category 1
Kategori ini mencakup perilaku yang dianggap lebih serius dan dihitung sebagai bagian menuju game disqualification.
Contohnya meliputi:
bersikap atau berbicara tidak sopan kepada wasit, commissioner, table official, lawan, atau bench lawan;
menggunakan bahasa atau gestur yang dapat memancing penonton;
melakukan provokasi atau taunting terhadap lawan;
menghalangi penglihatan lawan dengan tangan di depan wajah;
mengayunkan siku secara berlebihan tanpa kontak;
melakukan fake being fouled atau berpura-pura dilanggar (flopping).
Masuknya flopping ke dalam daftar contoh Technical Foul Category 1 menunjukkan komitmen FIBA dalam menjaga integritas pertandingan dan mengurangi upaya mendapatkan keuntungan melalui simulasi.
Technical Foul Category 2
Kategori kedua mencakup pelanggaran administratif atau perilaku yang tidak terlalu serius dan tidak dihitung menuju game disqualification.
Beberapa contohnya adalah:
sengaja menunda permainan;
menyentuh bola setelah bola masuk ke ring untuk memperlambat permainan;
menghambat throw-in atau free throw agar tidak segera dilakukan;
terlambat memasuki lapangan pada awal pertandingan atau babak kedua;
bergelantungan di ring tanpa alasan keselamatan setelah dunk;
goaltending pada free throw terakhir oleh pemain bertahan.
Kapan Pemain Didiskualifikasi?
Perubahan terbesar justru terdapat pada mekanisme game disqualification.
Menurut Article 36.2.3, pemain baru akan didiskualifikasi apabila menerima:
2 Technical Foul Category 1;
2 Flagrant Foul;
1 Technical Foul Category 1 dan 1 Flagrant Foul.
Artinya, Technical Foul Category 2 tidak lagi menjadi penyebab langsung menuju diskualifikasi pertandingan.
Perubahan ini memberikan ruang bagi wasit untuk membedakan pelanggaran administratif dengan tindakan yang benar-benar mencederai sportivitas.
Article 37 – Disruptive Foul Menggantikan Sebagian Unsportsmanlike Foul
Salah satu inovasi terbesar dalam FIBA Rules 2026 adalah diperkenalkannya Disruptive Foul.
Jenis pelanggaran ini menggantikan sebagian besar situasi yang sebelumnya dikategorikan sebagai Unsportsmanlike Foul, terutama pada pelanggaran taktis untuk menghentikan permainan.
FIBA mendefinisikan Disruptive Foul sebagai kontak ilegal terhadap lawan yang:
tidak mencapai tingkat Flagrant Foul;
mengganggu alur permainan;
menempatkan lawan pada posisi yang dirugikan.
Situasi yang Termasuk Disruptive Foul
FIBA memberikan beberapa kriteria utama.
1. Menghentikan Fast Break Tanpa Bermain Bola
Misalnya seorang pemain bertahan menarik lawan dari samping hanya untuk menghentikan serangan cepat tanpa berusaha merebut bola.
Situasi ini kini masuk kategori Disruptive Foul selama belum memasuki act of shooting.
2. Sengaja Menghentikan Jam Pertandingan
Pada akhir kuarter, pemain bertahan melakukan kontak ringan hanya untuk menghentikan waktu permainan atau shot clock.
Kontak seperti ini juga dikategorikan sebagai Disruptive Foul karena bertujuan menghentikan permainan secara taktis, bukan memainkan bola.
3. Pelanggaran dari Belakang pada Pemain yang Menuju Ring
Jika seorang pemain menyerang menuju basket tanpa ada pemain bertahan lain di depannya, kemudian dilanggar dari belakang atau samping tanpa usaha sah memainkan bola, maka tindakan tersebut termasuk Disruptive Foul.
Hukuman untuk Disruptive Foul
Menurut Article 37.2, hukuman yang diberikan adalah:
foul tetap dihitung sebagai team foul;
pemain yang dilanggar memperoleh free throw sesuai situasi;
permainan dilanjutkan dengan throw-in di frontcourt dari sisi berlawanan meja pencatat skor.
Jumlah free throw mengikuti kondisi saat pelanggaran terjadi:
2 free throw apabila pemain tidak sedang melakukan shooting;
basket dihitung ditambah 1 free throw apabila tembakan berhasil;
2 atau 3 free throw apabila tembakan gagal.
Article 38 – Flagrant Foul Kini Dikhususkan untuk Pelanggaran Berat
Perubahan berikutnya terdapat pada Article 38 – Flagrant Foul.
Jika Disruptive Foul digunakan untuk pelanggaran taktis, maka Flagrant Foul diperuntukkan bagi tindakan yang benar-benar melanggar semangat sportivitas dan memiliki tingkat bahaya tinggi.
Menurut FIBA, Flagrant Foul adalah kontak ilegal yang:
bukan permainan basket yang sah terhadap lawan;
dilakukan secara sembrono, keras, atau berbahaya;
menyebabkan atau berpotensi menyebabkan cedera;
merupakan kontak yang sangat keras saat memainkan bola maupun lawan.
Contoh Flagrant Foul
Beberapa contoh situasi yang dapat dikategorikan sebagai Flagrant Foul antara lain:
mendorong pemain yang sedang melayang saat melakukan lay-up;
memukul kepala atau leher lawan;
melakukan tekel keras tanpa peluang memainkan bola;
kontak berlebihan yang berisiko mencederai lawan.
Penilaian tetap berada pada kewenangan referee dengan mempertimbangkan tingkat bahaya tindakan tersebut.
Hukuman Flagrant Foul
Hukuman Flagrant Foul lebih berat dibanding Disruptive Foul.
Pemain yang dilanggar memperoleh:
free throw sesuai situasi;
throw-in dari frontcourt;
foul tetap dihitung sebagai team foul.
Selain itu, pemain akan didiskualifikasi apabila menerima:
2 Flagrant Foul;
kombinasi 1 Flagrant Foul dan 1 Technical Foul Category 1.
Perbandingan Ketiga Jenis Pelanggaran
| Jenis | Tujuan Utama | Menuju Diskualifikasi |
|---|---|---|
| Technical Foul Category 1 | Perilaku tidak sportif | Ya |
| Technical Foul Category 2 | Administratif | Tidak |
| Disruptive Foul | Menghentikan permainan secara taktis | Tidak |
| Flagrant Foul | Kontak keras dan berbahaya | Ya |
Perbedaan ini membuat proses penegakan aturan menjadi lebih objektif dibanding sistem sebelumnya.
Dampaknya bagi Pemain
Pemain kini harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ketika ingin menghentikan fast break atau melakukan tactical foul.
Pada aturan lama, tindakan tersebut sering langsung dianggap Unsportsmanlike Foul. Kini wasit memiliki kategori baru yang lebih spesifik.
Namun, pemain juga harus menyadari bahwa tindakan seperti flopping, provokasi, hingga perilaku tidak hormat kepada perangkat pertandingan dapat berujung pada Technical Foul Category 1 yang berkontribusi terhadap diskualifikasi.
Dampaknya bagi Pelatih dan Wasit
Pelatih perlu memperbarui materi pembinaan agar pemain memahami perbedaan antara Disruptive Foul dan Flagrant Foul.
Sementara itu, referee dituntut untuk menerapkan prinsip yang ditekankan FIBA, yaitu menilai tindakan (judge only the action) secara konsisten sepanjang pertandingan. Hal ini secara eksplisit ditegaskan dalam Article 37 dan Article 38 agar keputusan tidak dipengaruhi reputasi pemain, skor, atau situasi pertandingan.
Apa Arti Perubahan Ini bagi Basket Indonesia?
Bagi kompetisi nasional, perubahan ini membawa beberapa manfaat penting:
keputusan wasit menjadi lebih konsisten;
tactical foul dapat dibedakan dari tindakan berbahaya;
hukuman lebih proporsional terhadap tingkat pelanggaran;
pembinaan pemain muda menjadi lebih mudah karena kategori pelanggaran lebih jelas;
kualitas pertandingan meningkat dengan berkurangnya tindakan yang merusak sportivitas.
Penyelenggara kompetisi juga perlu memperbarui pelatihan referee, table official, dan sistem pencatatan pertandingan karena FIBA memperkenalkan sinyal wasit baru serta kode pencatatan baru untuk Disruptive Foul (DI), Flagrant Foul (FL), dan kategori Technical Foul pada scoresheet resmi.
Kesimpulan
FIBA Official Basketball Rules 2026 menghadirkan salah satu perubahan disiplin terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Dengan membagi Technical Foul menjadi dua kategori serta memperkenalkan Disruptive Foul dan Flagrant Foul, FIBA berupaya menciptakan sistem yang lebih adil, konsisten, dan proporsional.
Bagi pemain, perubahan ini menuntut pemahaman yang lebih baik mengenai batas antara tactical foul, pelanggaran administratif, dan tindakan yang benar-benar membahayakan lawan. Sementara bagi pelatih, wasit, serta penyelenggara kompetisi, aturan baru ini menjadi fondasi penting untuk menjaga kualitas pertandingan sesuai standar internasional.
Mulai 1 Oktober 2026, seluruh pihak yang terlibat dalam pertandingan basket berbasis regulasi FIBA perlu menyesuaikan diri dengan perubahan ini agar implementasi di lapangan berjalan seragam dan sesuai dengan tujuan utama FIBA, yaitu menjaga sportivitas, keselamatan pemain, dan integritas permainan.